Mediasuararakyat.com – Medan, SUMUT | Tidak terasa lima puluh satu tahun usia Perguruan Karate Kala Hitam pada 20 Januari 2023.

Tak terasa dari sepenggal waktu mulai berlatih tertatih – tatih dari tingkatan pemula hingga penyandang tingkatan DAN.

Tak terasa waktu berlalu dalam kebersamaan berbalut kain putih Karate-Gi berlambang Kala Hitam diantara peluh, keringat, dan darah bercucuran menetes di area dojo pusat, bahkan diatas rumput dan kerikil tajam sekalipun.

Berlatih dalam kebersamaan, Sensei demikian kami memanggilmu dengan suara lantangmu kau ajarkan kami alfa betanya beladiri karate, dengan mata elangmu kau ajarkan kami abjadiah seni keperkasaan, dan dengan KIAI (teriakan semangatmu) kau tular ajarkan kami keberanian berlandaskan kebenaran.

Ada perasaan yang membuncah mengenang orang yang telah berjasa kepada kita semua, yang telah mengajarkan arti karate yang sesungguhnya.

“Almarhum Sensei (Kancho) Winta Karna, Pendiri Perguruan Karate Kala Hitam dimata murid-muridnya adalah sosok guru yang dihormati, guru yang memberi contoh teladan, guru yang membuat kami mencintai beliau,” kenang Abdul Aziz.

Kau sampaikan filosofi Karate Ni Sente Nashi yang dicetuskan Master Karate Gichin Funakosi, guru dari Sosai Masutatsu Oyama pendiri aliran Kyokushinkai, merupakan aliran yang dianut Kala Hitam, yakni sikap yang tidak boleh menyerang pertama kali, dengan kata lain seorang Karateka tidak di perkenankan untuk memulai suatu perkelahian, tetapi ketika lawan sudah menyerang dan perkelahian tidak dapat dihindari maka lawan harus di jatuhkan, dan ditaklukkan secepatnya.

Tak terasa kemudian meski banyak cobaan, hambatan dan tantangan namun perguruan ini tetap berdiri dengan kokoh, dikembangkan oleh murid-muridnya yang sangat mencintai Guru yang telah membesarkanya ke seantero persada.

Tidak keliru penilaian H.M Yazid Mantan Ketua PWI Cabang Sumut dalam sambutan pada 33 tahun berdirinya Kala Hitam.

Jerih payah, semangat dan keuletan Winta Karna dalam membangun Perguruan Karate Kala Hitam memang patut mendapat acungan jempol. Tanpa kenal lelah ia terus melatih, memimpin serta mengembangkan Kala Hitam. Bukan saja waktu, tetapi Winta Karna telah mengorbankan karir dan hidupnya bagi Kala Hitam.

Pengorbanan yang demikian itu sangat sukar ditandingi. Itu pulalah yang membuat ia berhasil mengantarkan begitu banyak anggota Kala Hitam yang telah mendapat latihan fisik maupun mental terjun kedalam masyarakat.

“Ada nasehat beliau yang hingga saat ini saya pegang”, kenang Aziz.

“Sehari berguru, seumur hidup amanah dijunjung”. Nasehat ini sangat dalam maknanya yang dapat diterjemahkan secara luas, kita tidak berarti apa-apa jika tidak dibesarkan oleh orang-orang di sekitar, tidak di besarkan Perguruan, tidak di besarkan oleh Organisasi, untuk itu jangan pernah menjadi pengkhianat, dan jangan pernah mengkhianati hati nurani.

“Tidak ada manusia besar sendiri, jika tidak ada yang membesarkannya. Setinggi apapun pangkat dan jabatanmu guru tetaplah guru yang patut kita hormati.
Karateka boleh tua namun Perguruan Kala Hitam tetap jaya,” sebut Abdul Aziz.

Penulis : Syam Hadi Purba

Deden Solehudin

Editor : Deden Solehudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content ini dilindungi.....!!!!