Mediasuararakyat.com – Karawang, Jawa Barat | Kesuksesan tentu menjadi impian semua orang. Namun sebuah kesuksesan sendiri dapat dimaknai secara berbeda bagi setiap orang. Kerapkali kesuksesan dimaknai sebagai pencapaian materi, harta, atau jabatan.

Namun hal ini dipandang berbeda oleh Siti Aisah, kesuksesan tidak melulu soal kekayaan atau materi saja, tetapi apa esensi hidup kita. “Dalam kehidupan, hal yang paling esensial adalah ketika hidup kita bukan hanya untuk kita lagi, tetapi ketika kita bisa berbuat dan berbagi untuk orang lain,” ujar Siti Aisah saat di wawancara di kediamannya. Selasa (22/02/23)

Siti Aisah mengatakan banyak orang menganggap berbagi pasti identik dengan uang. Padahal berbagi tidak melulu soal uang. Bahkan ada orang yang enggan berbagi karena ingin menunggu kaya terlebih dahulu. “Sehingga sampai meninggal dia tidak pernah berbagi dan berbuat baik,” katanya.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Kalimat ini mungkin sering kita dengar di kehidupan kita sehari-hari. Ini mengingatkan kita bahwa bermanfaat bagi orang lain tidak harus dengan memberikan materi atau uang saja, tetapi bagaimana kita bisa berbagi ilmu, pengetahuan, keahlian, atau bahkan melalui profesi yang kita jalani.

Sama halnya dengan Kepala Desa, Seseorang bisa berkontribusi nyata kepada bangsa, negara, dan masyarakat dalam pengabdiannya sebagai Kepala Desa. “Banyak hal yang bisa Kepala Desa lakukan dengan bidang pekerjaan yang ditekuni, asal mengerti makna dan tujuan dari hidupnya,” tutur ibu yang sederhana ini

Siti Aisah menuturkan, ketika seorang Kepala Desa bekerja maka ia perlu kembali bertanya pada dirinya sendiri apa manfaat dari pekerjaannya itu bagi orang lain. Pemahaman ini tentunya bisa mendorong gairah untuk bekerja dan melakukan tugasnya lebih dari sekadar untuk mencari makan, menghidupi keluarga, atau mengejar materi semata. Ini karena mengejar materi semata pada akhirnya membuat seseorang tidak memiliki makna dalam hidup.

“Karena memberi itu selalu membuat orang bahagia. Sebab tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah,” ucapnya.

Tidak hanya bagi Kepala Desa, tetapi juga dengan profesi-profesi lainnya. Kita perlu kembali menanyakan apa sebenarnya tujuanku bekerja serta apakah pekerjaanku ini bermakna dan bermanfaat untukku dan orang lain. Mengapa pertanyaan-pertanyaan ini perlu kita tanyakan kembali ke diri sendiri, karena saat ini Siti Aisah melihat masih banyak anak-anak muda yang tersesat dalam ketidakbahagiaan karena menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion atau lentera jiwanya.

Ibu yang akrab dipanggil Bu Aik ini mengungkapkan bahwa dia termasuk orang yang beruntung menemukan lentera jiwanya sejak dini, yaitu Sebagai Pendamping Desa . Ia menilai orang yang sudah menemukan lentera jiwa secara otomatis akan menikmati pekerjaannya.

“Saya bahagia sudah menemukan lentera jiwa saya, karena kalau orang menjalankan pekerjaannya dan dia bahagia pada saat bekerja, prestasi itu tinggal tunggu waktu,” tukasnya.

Ibu Aik menambahkan, pada akhirnya ketika kita sudah bisa memahami makna dan tujuan hidup kita, maka apa yang kita kerjakan menjadi pekerjaan yang sangat berharga. “Karena meskipun harus bekerja sampai malam, tapi ada sesuatu yang terpikirkan bahwa aku bekerja untuk membantu dan berbuat bagi orang lain, bukan semata-mata untuk diri sendiri atau keluargaku,” tambahnya.

“Inilah saatnya kita belajar. Orang-orang kreatif mencari kesibukan untuk memperkaya dirinya dengan ilmu pengetahuan, tetapi orang-orang yang tidak kreatif pasti hanya akan mengeluh saja,” pungkasnya. (Rian)

Deden Solehudin

Editor : Deden Solehudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *