Img 20230706 Wa0031

Mediasuararakyat.com – Banten | Sosok Muhammad Rihabulloh atau akrab disapa Gus Rihab. Pemuda kelahiran Jakarta 21 Maret 1999 berencana akan mencalonkan diri dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk DPR RI di Dapil Pandeglang-Lebak.

Gus Rihab diketahui tumbuh dan dididik dalam lingkungan keluarga pesantren, yang terletak di Pulonangka Barat yang bernama Pondok Pesantren Al-Kenaniyah.

Muhammad Rihabulloh adalah anak ketujuh dari sosok pengasuh pesantren yang bernama KH. Hambali Ilyas dan Ibu Nyai Zakiah Aziz Amin. Ia juga merupakan cucu dari tokoh Betawi, KH. Ilyas Kenan.

Muhammad Rihabulloh atau Gus Rihab, mulai mengenyam pendidikan dari Sekolah Dasar yakni di SDI Al Azhar, Kelapa Gading.Gus Rihab memiliki ketertarikan dan sangat antusias untuk mempelajari sastra Arab mulai dari kelas 5 sekolah dasar (SD).

Setelah lulus SD, Gus Rihab melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, sambil ia bersekolah di SMP dan SMA Abdul Wahid Hasyim.

Gus Rihab menimba ilmu-ilmu agama khas Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan metode tradisional pesantren salaf.

Ia bercerita pengalamannya berguru kepada KH. Ishaq Latief dalam ilmu Tasawuf dan Akhlaq, mulai dari kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim milik Hadrotusyech Hasyim Asy’ari sampai kitab Adabuddunnya wa Din milik Imam Al-Mawardi.

Dalam Ilmu Hadits, Gus Rihab berguru kepada KH. Habib Ahmad. Dimulai dengan kitab Riyadhus Sholihin Imam Nawawi sampai dengan kitab Bukhori dan Muslim.

Hasil konsistensi dalam belajar yang diiringi do’a orang tua dan guru menganugerahkan Gus Rihab sebuah ijazah sanad Hadits Bukhori dan Muslim yang bersambung kepada KH. Idris Kamali lalu kepada Hadrotusyech Hasyim Asy’ari sampai Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Sebagai pemuda yang haus akan ilmu, Gus Rihab terus belajar dan melanjutkan pendidikannya dengan KH. Kamuli Khudlori.

Kepada guru tersebut, Gus Rihab mengambil ilmu sastra bahasa Arab atau dikenal dengan ilmu Nahwu dan Shorof dari Kitab Muttammimah Al-Jurumiyah sampai degan Alfiyah Ibnu Malik.

Selain itu, Gus Rihab mengisi waktu di Pondok Pesantren dengan banyak pengajian lain seperti pengajian KH. Musta’in Syafi’i dan KH. Syakir Ridwan dalam Ilmu Tafsir.

Gus Rihab juga berguru kepada Ustadz Najib Muhammad. Ia mengaji kitab-kitab Hadits Imam Nawawi dan Fiqih seperti Tafsir Ahkam dan kitab Al Mulhazab Imam Syafi’i.

Serta masih banyak pengajian yang diikuti dengan para Masyaikh Tebuireng selama 6 tahun Gus Rihab mengenyam pendidikan di sana.

Selesai masa pendidikan SMA dan Pondok Pesantren di Tebuireng, Gus Rihab melanjutkan kuliah S1 di University of Sussex, Brighton, United Kingdom dengan jurusan International Relations.

Semasa kuliah ia aktif berorganisasi, dan turut menjadi pembentuk Indonesian Society di Sussex University. Pada semester akhir, dengan bimbingan dosen pembimbing Mathew Ford, Gus Rihab menyelesaikan desertasi dalam bidang Politik Militer tentang, “Keseimbangan Politik atas Dampak Kepemilikan Senjata Nuklir, dan Tantangan Baru Pertahanan dengan Ditemukannya Senjata Berbasis AI”.

Melanjutkan S2 dalam 2 jurusan Ilmu Politik dan International Business, Gus Rihab menyelesaikan thesis S2 dengan judul, “Pembentukan Aliansi di Timur Tengah dan Pengaruh Kekuatan Industri Minyak di Daerah tersebut” pada tahun 2022, dari Queen Mary University of London, United Kingdom.

Pada tahun 2022, Gus Rihab mulai pulang ke Indonesia dan kembali mengajar di Pondok Pesantren Al-Kenaniyah khususnya dalam bidang Tasawuf, Tafsir, dan Sastra Arab. Beberapa bulan setelah kepulangannya dari London, Gus Rihab dipercaya sebagai tenaga ahli Anggota DPR RI Komisi 1 Bidang Pertahanan dan Luar Negeri.

Gus Rihab hingga kini masih aktif mengajar di Pondok Pesantren maupun di luar Pesantren. Ia juga tetap melanjutkan kebiasaannya menuntut ilmu dan mengaji, dimana kali ini ia aktif berguru kepada KH. Sa’id Aqil Siroj di Ast-Tsaqofah.Melihat rekam jejak pendidikan dan kehidupan sosialnya, ternyata Gus Rihab ini memiliki hubungan baik dengan berbagai golongan masyarakat.

Sosoknya dikenal aktif dan dinamis dalam pergaulan dengan setiap segmen lapisan sosial. Gus Rihab berteman dengan banyak orang dan mampu bergaul dan menyesuaikan tempat. Kadang ia hampir tidak terlihat sebagai santri, saat sedang di luar pesantren.

Namun saat aktivitasnya di pesantren yang hingga kini tidak pernah ia tinggalkan, tentu siapapun akan menilai Gus Rihab adalah sosok pemuda energik, santri yang intelektual dan rendah hati.***

Penulis: SN

admin

Editor : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content ini dilindungi.....!!!!