Img 20230929 Wa0126

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq

ANDA ingat nama Dudung? Ya, seorang jenderal yang pernah membuat heboh publik karena statementnya tentang agama beberapa waktu lalu. Statementnya menuai reaksi keras, khususnya dari sebagian umat Islam. Ya, sebagian. Tidak seluruhnya.

Dudung seorang jenderal. Waktu itu dia panglima Kostrad. Dalam satu kesempatan, dia mengeluarkan statement, bahwa “semua agama benar”. Statementnya menuai reaksi publik. Ada yang mendukung, tak sedikit yang menolak.

Yang mendukung memberikan argumentasi bahwa itu sebuah pernyataan yang benar karena dikeluarkan oleh seorang yang tepat; jenderal tentara yang kapasitasnya sebagai pimpinan lembaga pertahanan negara.

Mereka beralasan, justru ia akan salah bila mengatakan “hanya agama anu yang benar”. Dalihnya, masih lebih benar mengatakan “semua agama benar” dibanding mengatakan “hanya agama anu yang benar”, dalam kapasitasnya sebagai petinggi tentara pimpinan lembaga negara.

Sebaliknya, yang menolak tak kalah sengit. Mereka mengklaim, bahwa hanya agamanya lah yang benar. Tersirat makna, bahwa agama lain mah salah. Keyakinan ini bukan hanya ada pada agama tertentu. Tetapi bisa dipastikan ada dalam setiap agama.

Mungkin karena mayoritas, dan mungkin karena penulis juga menjadi bagian darinya. Yang penulis tahu, reaksi keras muncul dari kalangan Islam. Kristen adem, Katholik senyap, Budha landai, Hindu no coment, Konghucu anteng. Padahal saya yakin tiap agama itu punya doktrin “innaddina”.

Sang jenderal bicara dalam kapasitas sebagai alat negara yang mengayomi semua warganya yang berbeda-beda agama. Publik meresponnya dari sudut pandang keyakinan agama masing-masing. Maka, disinilah celah diskusi kita. Mari kita bincangkan!

Tuhan menciptakan Adam AS sebagai manusia pertama di surga. Karena melakukan kesalahan, dia diusir ke bumi. Allah SWT membekalinya dengan petunjuk, berupa “agama”. Ia menjadi nabi. Demikian keyakinan umum pada hampir setiap ajaran agama.

Karena petunjuk hidup telah diberikan dan dititipkan kepada Adam AS sebagai bekal dan pedoman hidup diluar surga, maka generasi selanjutnya “dilepas-liar” oleh Tuhan. Tidak lagi langsung dibawah pengawasanNya, seperti perlakuanNya terhadap Adam AS di surga. 

Ketika dianggap “sudah liar”, barulah dikirim nabi lain sebagai “tali kekang” pengingat. Itulah mengapa, penetapan nabi oleh Tuhan tidak secara langsung berkesinambungan dari generasi ke generasi. Misalnya dari bapak ke anak.

Bila pun ada, hanya tertentu saja. Seperti Ibrahim ke Ismail dan Ishak. Pada umumnya berjarak. Puluhan bahkan ratusan tahun jeda waktunya. Baru kemudian diutus nabi. Sebagai pelanjut ajaran nabi sebelumnya.

Walau penunjukan nabi ada jedanya, ajarannya tetap berkesinambungan. Sehingga, norma yang dititipkan oleh Tuhan kepada Adam AS, sama dengan yang diajarkan pada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.

Nah dengan begitu, berarti Tuhan yang mengajari Adam AS, adalah Tuhan yang sama yang mengajari dan memberikan wahyu kepada Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Muhammad SAW. Tuhan yang itu-itu juga, yang dalam Islam dikenal dengan Allah Subhanahu Wataala.

Karena berasal dari Tuhan yang sama, yaitu Tuhan “yang itu-itu juga” maka norma ajaranNya sama, selaras, dan tidak kontradiktif antara yang diberikan kepada nabi tertentu dan kepada nabi lainnya. Sama, selaras, dan satu tarikan nafas.

Tuhan berikan Taurat kepada Musa. Kaumnya jadi Yahudi. Tuhan berikan Injil kepada Isa. Umatnya jadi Nashrani. Dan Tuhan yang sama berikan Al-Quran kepada Muhammad. Umatnya jadi Islam.

Musa, Isa, dan Muhammad adalah utusan Tuhan yang sama. Taurat, Injil, dan Al-Quran, adalah kitab-kitab suci pedoman umat beragama dari Tuhan yang sama. Yang dalam Islam dikenal dengan nama Allah SWT. Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Benar.

Sesuatu yang berasal dari Yang Maha Tahu dan Maha Benar, pasti “produknya” benar. Jadi, “ada kebenaran” dalam Yahudi, Nashrani, dan Islam. Itu pasti! Persoalannya, apakah dengan demikian semua agama benar?

Sebagaimana disebutkan dalam kitab suci umat Islam, bahwa selain Islam, baik Yahudi maupun Nashrani, merupakan agama yang bersumber dari Tuhan yang sama. Ketiga agama itu, dalam khazanah keilmuan, dikenal dengan istilah agama samawi.

Dalam perkembangannya, muncul tesa, sintesa, dan antitesa. Yahudi sebagai tesa, muncul Nashrani sebagai sintesa, dilengkapi oleh Islam sebagai antitesa. Dalam doktrin, prinsip, dan ajaran utamanya pada ketiga agama itu tetap ajeg, linier, dan berkesinambungan.

Mengapa demikian? Karena yang mengajarkan adalah Tuhan yang sama. Tuhan yang itu-itu juga. Mana mungkin dari Tuhan yang sama keluar ajaran yang berbeda, yang antara satu firman terdahulu dengan firman yang keluar belakangan saling menegasikan.

Menjadi berbeda itu muncul pada level tafsir para penganutnya. Setiap pemeluk agama tersebut masing-masing saling mengklaim sebagai yang paling benar, yang kerap disertai bahwa ajaran agama yang lain itu salah. Innadina indallahil islam, menjadi alat klaim di level tafsir penganutnya.

Ketika Yahudi menjadi agama mainstream pada masanya, dianulir oleh Nashrani yang datang belakangan. Hal yang sama terjadi ketika Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Anggapan dan keyakinan bahwa sejak Adam hingga Muhammad itu adalah “islam”, hanya berlaku di kalangan Islam. Dan itu klaim.

Jadi, saling  menegasikan itu bukan di level firman. Tapi pada level tafsir para penganutnya. Yahudi dianggap salah oleh penganut Nashrani. Nashrani dianggap salah oleh penganut Islam. Saling tuduh ini biasanya menganggap bahwa dalam ajaran agama terdahulu terjadi penyimpangan.

Sekali lagi, yang dianggap sebagai penyimpangan itu bukan firmanNya. Tapi tafsir penganutnya atas firmanNya. Dan yang menganggap demikian, adalah orang lain yang berbeda agama. Seperti halnya anggapan sebagian umat Islam yang menuduh bahwa ada perubahan dalam Injil.

Injil yang dianggap berubah ini, kerap dipakai sebagai justifikasi atas salahnya Nashrani oleh sebagian umat Islam. Padahal, bagi pemeluknya sendiri, Injil merupakan kitab suci rujukan pamungkas yang tiada celanya. Sama halnya seperti keyakinan umat Islam terhadap Al-Quran.

Anggapan sebagian umat Islam yang menuduh bahwa ada perubahan dalam Injil dan dengan demikian ada penyimpangan dalam ajaran Nashrani, gejala ini sejatinya tidak berbeda dengan keyakinan penganut madzhab dalam Islam sendiri. Seperti antara Sunni dan Syiah.

Bayangkan, ketika Yahudi menganggap bahwa hingga kini agamanya yang paling benar, dan diluarnya dianggap salah dan sesat, lalu Nashrani juga punya sikap yang sama, bahwa agamanya yang benar dan diluar mereka salah. Kemudian Islam datang dengan prinsip yang sama.

Lalu prinsip itu diikuti dalam Islam sendiri, masing-masing madzhab mengklaim diri sebagai yang paling benar, sembari menyertai bahwa penganut madzhab lain itu sesat dan menyesatkan, seperti halnya perseteruan antara Sunni dan Syiah.

Begitu menganggap salahnya atas Madzhab Syiah, sampai dibentuk satu organisasi sebagai anti atasnya oleh kalangan Sunni. Tak terpikirkan bahwa bila hal yang sama dilakukan oleh Syiah, dengan membentuk organisasi anti Sunni.

Kesalahan lain selain menganggap bahwa adanya perubahan rumusan firman Tuhan dalam kitab suci agama lain, adalah adanya “takaran” yang tidak tepat pada ajaran agama lain. Menakar ajaran agama lain dari doktrin agama sendiri.

Menakar Injil dari sudut pandang Al-Quran. Juga sebaliknya, menakar Al-Quran dari sudut pandang Injil. Ulama bicara tentang isi Injil. Lalu pendeta bicara tentang isi Al-Quran. Pada kasus lain, murtadin menjelekkan Al-Quran. Muallaf menjadikan isi Injil sebagai bahan tertawaan.

Yahudi beribadah dengan cara menjerit di Tembok Ratapan dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Nashrani beribadah dalam gereja dengan nyanyian diiringi denting piano dianggap sebagai ritus yang tidak lumrah. Islam lagi marhaba berbaris berkeliling sembari teriak-teriak dianggap lelucon.

Perilaku “mengukur baju orang dengan ukuran badan sendiri ini” melahirkan pemahaman yang salah dan keliru. Akibatnya, masing-masing pemeluk agama saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, dalam kacamata Islam, Nashrani banyak salahnya. Pun sebaliknya. Begitu pula yang terjadi pada agama lain, Yahudi, Budha, Hindu, Konghucu, dan yang lainnya. 

Kalau sudah begitu, lalu dimana letak rahmatan lil alamin bagi agama-agama itu dan madzhab-madzhab itu? Agama yang semula diturunkan untuk mewujudkan kedamaian bagi semesta alam, berubah menjadi saling menegasikan, saling menyalahkan, saling menyesatkan, saling membinasakan.

Penulis haqul yakin, bukan begitu skenario yang diinginkan oleh Tuhan. Bukan cara beragama seperti itu yang diinginkan oleh Tuhan. Rahmatan lil alamin yang lintas batas itu -tidak tersekat perbedaan apapun termasuk iman-adalah peran agama pembawa kedamaian bagi umat manusia.

Karenanya, agar setiap agama berperan sebagai ajaran pembawa kebenaran, kedamaian, serta keselamatan, masing-masing pemeluk agama lebih baik mencari sisi sama atau kesamaan ajaran dari masing-masing ajaran agama.

Upaya mencari kesamaan ini tidak lantas bermakna melebur ajaran agama. Tapi dengan memperbanyak kesamaan akan bertemu pada poros yang sama sebagai simpul bertemunya ajaran-ajaran agama tersebut. Akan bertemu pada Tuhan yang sama.

Bahwa masih ada perbedaan antara ajaran agama, biarkan itu menjadi ciri khas masing-masing tanpa saling menyalahkan. Biarkan perkara yang beda itu ditafsirkan secara benar oleh masing-masing pemeluk agama. Dengan begitu, semoga rahmatan lil alamin selaras dengan kehendak dan skenario Tuhan. Wallahualam.***

Penulis adalah Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (Fordiska Libas)

admin

Editor : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content ini dilindungi.....!!!!