IMG 20251108 WA0000

MediaSuaraRakyat.Com-Indramayu,Suasana meriah karnaval Ogoh-Ogoh di Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mendadak berubah ricuh pada Sabtu 8 November 2025. Acara yang seharusnya menjadi ajang budaya dan kebersamaan itu justru berujung bentrokan antarwarga, hingga melibatkan anak di bawah umur sebagai korban.

Peristiwa tragis ini memantik sorotan publik, terutama terhadap lemahnya pengawasan dan tanggung jawab pemerintah desa yang dinilai abai dalam mengantisipasi potensi kericuhan di acara besar tersebut.

Menurut informasi yang dihimpun, kericuhan terjadi antara warga blok Karanganyar dan blok Karangmalang. Insiden bermula dari kesalahpahaman kecil yang dipicu oleh pengaruh minuman keras

Seorang saksi mata menyebutkan, situasi mulai memanas saat orang blok Karanganyar menyerang Karangmalang. Beberapa pemuda diduga terlibat adu mulut hingga akhirnya saling serang. Batu bata digunakan dalam bentrokan itu.

“Tiba-tiba mereka datang dan langsung melempari batu. Padahal di sini banyak anak kecil dan orang tua yang sedang memeriahkan karnaval,” ujar seorang warga Karangmalang yang enggan disebut namanya.

Akibat bentrokan tersebut, tiga anak di bawah umur dilaporkan menjadi korban luka. Salah satunya, berinisial H, mengaku hanya berusaha melerai namun justru ikut dipukul oleh massa yang diduga berasal dari blok Karanganyar.

“Saya cuma mau misahin. Tapi tiba-tiba saya dipukul. Saya nggak tahu kenapa, padahal saya nggak ikut ribut,” kata H dengan suara lirih ketika ditemui di lokasi.

Korban lain, Irfan, juga mengalami luka di leher akibat lemparan batu bata. “Saya dilempar batu, kena leher. Untung cepat dibawa warga ke rumah,” ungkapnya sambil menunjukkan bekas luka.

Sementara itu, salah satu pemuda blok Karanganyar berinisial A mengaku kejadian bermula ketika temannya dipukul lebih dulu.

“Teman saya bilang dipukul duluan, jadi kami bertiga datang mau nanya baik-baik. Tapi belum sempat ngomong, kami diserang,” ujarnya.

“Dari awal sudah kelihatan banyak yang mabuk, tapi tidak ada tindakan. Pemerintah desa seolah menutup mata. Kalau dari awal dikontrol, ini nggak akan sampai begini,” kata warga lain dengan nada kesal.

Meski akhirnya kedua belah pihak sepakat berdamai di kantor Desa Jangga, warga tetap menyoroti lemahnya pengamanan dan minimnya tanggung jawab dari perangkat desa.

Warga menilai perdamaian tidak cukup tanpa evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan pengawasan kegiatan desa.

Kritik keras kini mengarah kepada pemerintah Desa Jangga yang dianggap lalai menyiapkan pengamanan acara besar tersebut.

Masyarakat menilai panitia dan pihak desa seharusnya mengantisipasi potensi kericuhan dengan melibatkan aparat keamanan sejak awal.

Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi warga Desa Jangga. Acara budaya yang seharusnya mempererat silaturahmi justru berubah menjadi ajang kekerasan akibat lemahnya kontrol sosial dan kelalaian aparat setempat.

Warga berharap pemerintah desa segera bertindak tegas dan tidak mengabaikan keamanan masyarakat di setiap kegiatan desa.

((Heryanto))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content ini dilindungi.....!!!!